Pesantren Entrepreneur Blogs

TOLERANSI TINGKAT TINGGI meruntuhkan Tuduhan Radikalisme

Saat kota Janja/Yania menghadapi era kekacauan dan peperangan yang disebabkan dari pemberontakan oleh keturunan Carlo Togo I dalam rangka merebutkan kekuasaan yang menyebabkan kesengsaraan rakyatnya, beberapa utusan dari kota Yania yang saat itu masih dalam kekuasaan Italia bertemu dengan Sultan Murad II untuk meminta bantuan menyelesaikan peperangan tersebut.

Sultan Murad II adalah Sultan ke-6 dalam Daulah Ustmaniyah. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang adil, penakluk, memiliki kebaranian yang tinggi serta ahli dalam strategi perang, yang nantinya semua kehebatanya itu diturunkan kepada putra terbaiknya yakni Sultan Muhamad Al Fatih.

Sultan Murad II menerima beberapa utusan dari Kota Yania dan berkata: “Selamat datang untuk kalian. Apa yang menyebabkan kalian datang kemari?”
Pimpinan utusan itu pun berkata: “Wahai Sultan yang agung, kami mohon agar anda tidak menolak permintaan kami. Sesungguhnya para pemimpin kami telah menzholimi kami dan memperlakukan kami seperti budak. Mereka merampas harta kami, lalu menjerumuskan kami dalam peperangan. Kami bukanlah orang Muslim. Kami orang orang Kristen. Namun kami sering mendengarkan keadilan kaum muslimin, dan mereka tidak pernah menzholimi rakyatnya. Mereka tidak pernah memaksa seorangpun memeluk agama mereka, dan siapa pun yang mempunyai hak akan mendapatkan hak yang sama dalam kekuasaan mereka. Kami mendengarkan itu semua dari para peziarah dan pedagang yang mengunjungi kerajaan anda. Karena itu, kami berharap anda dapat mengayomi kami dengan penjagaan kasih sayang kalian, dan agar anda dapat memerintah negeri kami, agar kalian dapat membebaskan kami dari para penguasa yang zholim”

Para utusan tersebut memberikan kunci emas kota Yania dan Sultan Murad II memenuhi permintaan penduduk kota Yania. Sultan mengutus panglima dan pasukan terbaiknya dan berhasil menaklukan kota tersebut dari kekacauan dan penguasa yang zholim. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1431 M.

Masih dalam kekuasan dinasti Seljuk, pada tahun 1070 M, terjadi peperangan Malazkard. Peperangan antara kaum muslimin dan kaum Romawi. Saat itu barisan kaum muslimin dipimpin oleh Sultan Alib Arsalan. Atas pertolongan Allah Azza wa Jalla, Sultan Alib memenangkan peperangan dan berhasil menawan Raja Romawi saat itu yang bernama Armanus.

Saat armanus dihadapakan kepada Sultan Alib, sultan pun bertanya: “menurutmu, apa yang akan aku lakukan kepadamu?” Armanus menjawab: “mungkin engkau akan membunuhku lalu memamerkan mayatku di negerimu, atau engkau akan mengampuniku, mengambil tebusan dan mengembalikan ke negeriku”. Sultan pun berkata: “aku tidak pernah bertekad melakukan apapun selain memaafkanmu dan meminta tebusan”.
Sultan Alib akhirnya membebaskan Armanus bersama sejumlah komandannya yang tertawan. Sultan memberikan 10.000 dinar untuk bekal Armanus dan mengutus sejumlah pasukan untuk menjaga Armanus sampai tiba di negerinya.

Saat konstantinopel ditaklukan, Sultan Muhamad Al Fatih kemudian berjalan menuju Gereja Aya Sophia. Di dalamnya berkumpul begitu banyaknya para Pendeta dan Pastor serta jamaat kristen dalam keadaan penuh ketakutan. Sultan mendekati mereka lalu berkata, mereka bisa pulang kerumah mereka masing-masiing dengan aman. Semua orang pun menjadi tenang. Sultan Al Fatih menjanjikan bahwa nyawa, harta, keyakinan dan kehormatan mereka akan tetap aman. Beberapa pastor yang bersembunyi di balik lubang-lubang persembunyian segera keluar dan menyatakan keislamannya karena melihat toleransi dan sifat pemaaf Sultan Al Fatih. Dibawah kekuasan Ustmani, agama-agama Kristen mendapakan semua hak religiusnya. Sultan Al fatih mengizinkan semua orang Yahudi dan Nasrani hidup dengan penuh kebebasan. Bahkan kota Islambul (Istanbul) menjadi tempat berlindungnya kaum Yahudi Spanyol yang tertindas.

Dari fakta ini jelas sudah bahwa kaum muslimin tidak pernah melakukan kezholiman di berbagai fase sejarah mereka. Mereka telah menunjukan nilai-nilai Islam yang sangat kuat terhadap situasi yang mereka hadapi.
Ini bukanlah cerita khayalan, walau pun sangat mengagumkan. Inilah kisah yang benar terjadi dan tercatat dalam sejarah bahwa dahulu kaum muslimin menjadi simbol keadilan dan kemoderatan.

Jika siapapun menyelami sejarah Islam secara utuh lalu didukung dengan kebersihan hati maka sulit untuk meyematkan kata radikalisme kepada Islam. Justru sebaliknya yang ditampilkan dari fakta sejarah tersebut hanyalah KEADILAN, KASIH SAYANG , CINTA DAN TOLERANSI TINGKAT TINGGI.

Serial Napak tilas Khilafah Utsmaniyah #1
------------------------------------

??????Jalan jalan ke turki lebih bermakna bersama: Okeywisata.com

?Nikmati Halal Tour; AMAZING TURKIYE dan nikmati sepanjang perjalan dengan tema Kajian:

?The Golden Era of Islam; Indahnya Masa Kejayan Itu
?Parenting Peradaban; Membuka Rahasia Bagaimana Lahirkan generasi Penakluk
?The Hidden Truth; Fakta tersembunyi Yang Merupakan Syarat Mutlak Kemenangan

Dan masih banyak lagi..........

Hanya ada di okeywisata.com
Wa: 081808330427

1 Comments

Kamis,13 Februari 2020


Leave your comment